Kamu sudah tahu belum kalau kisah Sipetek dan kilas balik perjuangan Aang Permana, founder Crispy Ikan Sipetek ini telah dibuat artikel oleh tirto.id?

Berikut highlight dari artikel tersebut:

Aang Permana, pemuda asal Cianjur, Jawa Barat, percaya bahwa seiring roda kehidupan berputar semangat tak boleh sekali pun padam. Ia juga meyakini kerja keras tak bakal mengkhianati hasil.

Semua hal itu telah ia buktikan sejak masa kanak. Untuk bisa sekolah, Aang harus mengandalkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) karena ayahnya terkena PHK. Ia bahkan tak mampu membeli buku. Namun, kondisi demikian tak membuatnya menyerah. Berkat ketekunannya, Aang mendapat beasiswa penuh dan berhasil lulus dari Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB dengan sederet prestasi yang mengantarkannya mendapat pekerjaan.

Tapi bekerja di sebuah perusahaan migas di Jakarta dengan gaji besar tak membuatnya bahagia. Waktunya bersama keluarga sering ia korbankan. Di saat bersamaan, Aang juga merasa ada sesuatu yang hilang karena menikmati hasil kerja kerasnya sendirian.

“Padahal apa yang saya dapatkan sejauh ini berkat bantuan banyak orang. Berkat pertolongan dan kasih sayang orang, tapi saya cuma menikmatinya sendiri. Makanya saya berpikir kok hidup saya kurang bermanfaat. Saya ingin hidup ini bukan sekadar untuk diri sendiri tapi sebanyak-banyaknya manfaat untuk orang lain,” tutur Aang, di laman Himpunan Alumni IPB. Aang kemudian memutuskan kembali ke kampung halaman dengan membawa sebuah misi.

Misinya terdengar sederhana, tetapi sungguh tak mudah diwujudkan. Pemuda kelahiran 1990 itu ingin meneruskan kebaikan yang selama ini didapatnya. Baginya, segala kebaikan yang diterima mesti diteruskan. Pay it forward. Ia merasa, jika kini bisa hidup sejahtera, orang lain juga berhak sejahtera.

Kesejahteraan untuk Semua

Sebagai staff environmental engineer, Aang kerap berkeliling Indonesia. Di banyak pantai ia menemukan beragam olahan ikan. Aang kemudian menyadari ada potensi besar yang tersimpan diWaduk Cirata, Cianjur, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu ikan petek.

Ikan jenis ini cukup mudah ditemukan di Jawa Barat, tepatnya di Waduk Jatiluhur, Cirata, dan Saguling, serta kawasan DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum. Hanya saja, bau amis yang menyengat membuat ikan petek dianggap tak layak dikonsumsi dan lebih sering dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Maka, dari segi ekonomi, ikan petek masuk kategori ikan rucah (trash fish).

Alih-alih kekurangan, bau amis justru merupakan pertanda kandungan gizi ikan yang tinggi, terutama protein. Aang kemudian menguji ikan petek dari Waduk Cirata di Laboratorium Balai Besar Industri Agro (BBIA) di Bogor. Benar saja, tak hanya kaya protein, ikan mungil ini mengandung kalsium delapan kali lebih banyak dibandingkan susu sapi, juga kaya akan asam folat, vitamin D, zat besi, zinc, dan DHA.

Aang memulai bisnis pada 2012 dan mulai serius menekuninya sejak 2014. Sejak awal, ia merangkul nelayan Waduk Cirata dan memberdayakan ibu-ibu berusia lanjut di daerahnya untuk menggoreng ikan petek. Dari yang semula bermerek Crispy Ikan, seiring dengan inovasi yang terus dilakukan, olahan ikan itu kemudian berubah nama menjadi Sipetek Crispy Ikan.

Hanya dalam tiga tahun, distribusi Sipetek sudah sampai di kota-kota besar, mulai dari Aceh hingga Papua, juga ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Cina, Taiwan, dan Arab Saudi. Total agen maupun reseller mencapai lebih dari 700 orang lebih dengan keuntungan ratusan juta rupiah per bulan
.

Silakan baca artikel lengkapnya di https://tirto.id/kisah-sipetek-kebaikan-yang-mesti-diteruskan-eiNY

Baca juga artikel lainnya di https://sipetek.id/blog/